WANITA MASA KINI: PENGEDUKASI KARAKTER KELUARGA

Refleksi Hari Kartini 2026

WANITA MASA KINI: PENGEDUKASI KARAKTER KELUARGA
Oleh: Susanto  *)

DDSS

*) Kepala SMAN 1 Sumberrejo-Bojonegoro

E-mail: [email protected].

Kini tinggal di Jl. Kyai Mojo Gang Buyut Pani V

Bojonegoro-Jawa Timur

 

"Emanisipasi bukan sekadar persamaan hak, tapi tentang kesadaran untuk memperluas budi pekerti dan pikiran."

RA KARTINI

Dalam minggu ini kita memperingati hari Kartini. Kartini sosok  pendobrak peran realitas dalam kehidupan kala itu sampai sekarang. Dalam konteks sekarang semangat kartini masih sangat relevan. Wanita masa kini adalah sosok yang dinamis, kompleks, dan penuh potensi. Era modern telah membuka begitu banyak pintu bagi mereka untuk mendefinisikan ulang peran dan ekspektasi sosial, melepaskan diri dari kungkungan stereotip lama, dan berdiri sejajar dalam berbagai aspek kehidupan.

Salah satu ciri paling menonjol dari wanita masa kini adalah fleksibilitas dan adaptabilitas mereka. Mereka mampu menyeimbangkan berbagai peran—dari profesional yang ambisius di tempat kerja, mitra yang suportif, ibu yang penuh kasih, hingga individu yang tetap meluangkan waktu untuk pengembangan diri dan minat pribadinya. Kemampuan untuk beralih antara peran-peran ini dengan gesit menunjukkan kekuatan manajemen waktu dan prioritas yang luar biasa.

Di bidang profesional dan pendidikan, wanita masa kini menunjukkan ambisi dan kompetensi yang tak diragukan. Semakin banyak wanita menduduki posisi kepemimpinan, merintis usaha sendiri, atau menjadi ahli di bidang-bidang yang dulu didominasi pria. Mereka tak gentar menghadapi tantangan, terus belajar, dan berupaya mencapai puncak karier tanpa mengabaikan aspek lain dalam hidup.

Memposisikan Wanita Indonesia

Lantas bagaimana agar wanita indonesia menjadi bagian integratif dalam membentengi generasi kita khususnya di tengah keluarga? Pertama, wanita Indonesia harus selalu memegang komitmen dalam melakukan kebebasan berekspresi. Artinya wanita Indonesia  harus tetap dalam spirit untuk melihat realitas. Berpendapat itu harus menyesuaikan kondisi real di masyarakat. Kata-kata bijak mengatakan: disitu bumi dipijak langit dijunjung. Dalam konteks, perlunya untuk menjaga sikap untuk menahan diri dari perkataan yang “asal bunyi” harus menjadi komitmen kita semua.

Kedua, perlunya upaya konkrit sikap karakter bangsa oleh orang tua khususnya para Ibu-wanita Indonesia sebagai sosok yang lemah lembut. Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan  pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk  pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan   warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga   masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang  banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Sosok Ibu saat  harus menjadi katalisator terkait dengan dampak positif-negatif media sosial, berita hoak, dan juga tindakan kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat. Dengan demikian, posisi Ibu (wanita) tetap menjadi bagian sosok sentral dalam membentengi karakter generasi yang akan datang, bukan sebaliknya.

Ketiga, penjaga tehnologi sosmed. Tehnologi termasuk sosmed harus dapat dimanfaatkan wanita (baca: Para Ibu) untuk  menebar kebaikan dan pengedukasian karakter anak dalam keluarga. Apalagi sekarang didunia pendidikan ada regulasi pembatasan gawai untuk siswa termasuk medosos. Sudah saatnya sosmed dengan berita-berita hoax harus dijadikan musuh bersama. Harapannya menjadi bangsa yang beretika dengan selalu berbuat dengan ikhlas tidak mudah menghujat dan menghakimi orang lain.

Keempat, Pembatasan gawai bagi pelajar merupakan langkah krusial dalam menjaga kesehatan mental dan fokus belajar. Dalam konteks ini, peran Ibu menjadi sentral sebagai pengelola dinamika rumah tangga sekaligus pendidik utama karakter anak. Artinya, apa yang terjadi akhir-akhirnya khususnya maraknya berita hoax dapat kita jadikan batu loncatan bagi orang tua khususnya Ibu (wanita Indonesia)  saat di rumah dan guru saat di sekolah untuk terus melakukan penguatan pendidikan karakter. Pengarusutamaan kebaikan melalui sosmed yang bersumber pada nilai-nilai luhur karakter bangsa dapat menjadi pilar utama dalam kehidupan keseharian masyarakat. Keberadaan sosmed  bukan hanya sebatas tehnologi akan tetapi pada orientasi media untuk mempertebal sikap nasionalisme.

Semangat menjaga kedamaian di tengah globalisasi tehnologi seperti saat ini harus menjadi impian kaum wanita.  Kaum wanita sejatinya harus memposisikan perannya yang positif keluarga dan masyarakat sesuai dengan kodrat kemanusiaanya. Dengan demikian, seorang wanita (ibu) tetap menjadi sumber inspiratif seperti apa yang telah dilakukan oleh sosok kartini masa lalu. Kartini millenial saat ini harus bisa menjawab tantangan global sebuah peradaban yang menginspirasi tanpa kehilangan kodrat keibuan.

Nah, keberhasilan kebijakan pemerintah khusunya pembatasan gawai dan bermedsos saat di rumah  sangat bergantung pada "ketahanan keluarga". Ibu adalah garda terdepan yang memastikan transisi dari kecanduan layar menuju aktivitas produktif dapat berjalan dengan penuh kasih sayang tanpa kesan intimidatif.Selamat Hari Kartini. (*)