Pendidikan Bermutu untuk Semua: Tanggung Jawab Siapa?
Artikel web SMANESS : Refleksi Hardiknas 2 Mei 2026 Pendidikan Bermutu untuk Semua: Tanggung Jawab Siapa? Oleh: Susanto, M.Pd. *) Penulis adalah Susanto, M. Pd. Kepala SMAN 1 Sumbererejo- Bojonegoro-Jatim. Esensi keberhasilan sebuah pendidikan sejatinya bukan terletak pada nilai yang diperoleh oleh individu siswa akan tetapi terletak sejauhmana siswa itu dapat mengimplementasi teori ilmu dalam praktik kehidupan. Nilai di sekolah hanya persoalan angka dan teori-teori. Substansi yang terpenting adalah bagaimana setelah lulus siswa dapat mengimplementasikan dalam kehidupan nyata baik sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Terpenting siswa dapat mengimplementasi dalam kehidupan konkrit. Pendidikan berbasis karakter solusi yang tepat untuk menjawab probematika yang terjadi saat ini. Secanggih apapun keberadaan tehnologi tetap tidak bisa menggantikan posisi guru. Bimbingan, motivasi dan keinovatifan guru untuk generasi saat ini dan mendatang harga mati untuk menguatkan tujuan pendidikan nasional dan tegaknya NKRI. Pendidikan kita kedepan lebih bermartabat karena adanya sinergitas dari semua elemen sebagai tugas bersama (baca: Superteam. Hal ini sesuai tema Hardiknas 2026 Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Seiring dengan konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda. Bangsa yang maju dan jaya tidak semata-mata disebabkan oleh kompetensi, teknologi canggih ataupun kekayaan alamnya, tetapi utama dan terutama karena dorongan semangat dan karakter bangsanya. Pemahaman karakter diri yang tangguh akan menjadikan seorang individu berkarakter yang sesungguhnya. Menguatkan Budaya Sekolah Lantas bagaimana agar pendidikan khususnya perihal penguatan karakter di tengah globalisasi tehnologi seperti ini?. Pertama, terbangunnya budaya sekolah yang tersinergi. Ada sinergi dengan seluruh warga sekolah dengan kehidupan nyata. Mengapa demikian? Karena ini kunci dari sebuah keberhasilan sekolah dalam membangun karakter. Hal yang sering dilakukan oleh Arief Rahman (2015:4) adalah dengan konsep 10 S. Senyum, Salam, Sapa, Sabar, Syukur, Sehat, Sugih, Semangat, Sukses, dan Surga. Disamping itu juga, keberhasilan dalam pembelajaran di sekolah apabila pembelajaran berjalan efektif. Pembelajaran dalam prosesnya merupakan pembelajaran yang berfokus kepada kebutuhan siswa. Artinya, kekuatan pembelajaran efektif, bila memenuhi persyaratan mengembangkan potensi knowledge, skill, behaviour, dan values setiap peserta didik sehingga menjadi insan yang luas pengetahuannya, cakap keterampilannya, bijak sikapnya karena pemahaman nilai-nilai yang menjadi dasar hidupnya, dan selaras berperilaku dengan sesamanya. Kedua, guru selalu mengedepankan inovasi pembelajaran khususnya dalam metode dan cara mengajarnya. Guru harus selalu untuk mengubah dirinya dan gaya mengajarnya. Meraka harus bisa merespon perkembangan dan mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif seperti era pandemi seperti ini. Pembelajar dalam hal ini siswa dapat mempeoleh sesuatu dengan cermat dan tidak membosankan. Guru senantiasa mengembangkan 4 P. Artinya, guru harus senantiasa menjadi pengajar, pendidik, penginspirasi, dan penggerak bagi sebuah kemajuan dalam proses pembelajaran dan juga kemajuan bangsa. Ketiga, guru melatih siswa dalam pemecahan masalah. Mengapa ini penting juga perlu ditekankan dalam pembelajaran? Karena dengan memberikan metode atau strategi yang tepat secara tidak langsung siswa juga dapat merasakan langsung problematika yang ada pada mata pelajaran yang diajarkan. Pada saat pandemi seperti ini tentunya siswa harus banyak mendapatkan bimbingan dalam memahami dan sekaligus tahu bagaimana mencari pemecahan masalah belajar secara luring atau daring. Komitemen Bersama Sebagai momen Hardiknas harus ada pemikiran yang konkrit agar pendidikan kita semakin maju di tengah medsos. Pertama, komitmen peran guru di sekolah.harus bisa melatih siswa dalam pemecahan masalah dalam kehidupan nyata baik yang menyangkut sain maupun sosial. Guru dalam memberikan metode atau strategi yang tepat secara tidak langsung siswa juga dapat merasakan langsung problematika yang ada pada mata pelajaran yang diajarkan. Siswa harus terlatih memahami dan sekaligus tahu bagaimana mencari pemecahan masalah. Dalam konteks ini peran guru sebagai penyelaras pendidikan karakter kepada para siswa. Kedua, guru tetap dalam jalurnya untuk tetap mengajar ilmu yang dapat dijadikan pedoman bertahan hidup di dunia baru yang berdaya saing global. Saat melakukan proses pembelajaran harus bisa memberikan pemahaman bagai bagaimana agar mereka bisa memiliki daya saing di pentas yang serba global dan kompleks. Para siswa untuk selalu diajak berjiwa kreatif. Artinya perlu adanya motivasi dari guru agar para siswa belajar hidup dalam pergumulan kreativitas. Sebab kita ketahui, bahwa kreativitas adalah modal dasar dalam hidup. Dengan demikian, guru mulia itu karena karya terbaiknya dalam mendidik, membimbing, dan memberikan motivasi bagi keberlangsungan hidupnya kelak. Ketiga, adanya penguatan kesadaran moral bahwa anak-anak membutuhkan rasa aman dari orang yang ada disekelilingnya baik guru dan orang tua. Langkah ini sebagai upaya preventif bahwa sejatinya anak-anak yang ada perlu mendapatkan proteksi dari orang-orang dewasa atau juga teman sebaya. Dengan kata lain, lingkungan keluarga dan sekolah adalah tempat kampanye dan sosialisasi yang efektif untuk memutus jaringan manakala kekerasan hadir di sekeliling mereka. Seiring dengan konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda. Bangsa yang maju dan jaya tidak semata-mata disebabkan oleh kompetensi, teknologi canggih ataupun kekayaan alamnya, tetapi utama dan terutama karena dorongan semangat dan karakter bangsanya. Pemahaman karakter diri yang tangguh akan menjadikan seorang individu berkarakter yang sesungguhnya. Nah, Para guru yang terlibat dalam dunia pendidikan harus memiliki inovasi dan prestasi yang berkelanjutan. Guru mulia, berdedikasi, dan berprestasi karena manfaat karyanya bisa dirasakan oleh siswanya. Pengarusutamaan pendidikan karakter harus dapat menangkal arus informasi yang negatif. Apalagi, sekarang lagi marak hoax dalam medsos.



